“Kinoy dan Yonik”
Karya: Rahmatullah (Al” bantany)
Di suatu kisah terlihat dua seorang sahabat berkelana
menghadapi hidup dalam kepedihan, mereka mencari sebuah kehidupan yang layak
untuk mencapai kehidupan yang baik. Direruntuhan awan yang gelap terang bagai
bola lion yang menyinari isinya, tak pernah lelah keringat menjadi obat usaha
mereka.
Bermula di desa yang sangat jauh dari kota indah,
berkemul sederhana. Lecek. Dan raut wajah yang terbilang tak terurus itu
tersimpan senyuman yang bersemangat. Iyah, mereka adalah kinoy dan yonik yang
tak tahu siapa kedua orang tua mereka, mereka terlahir hanyalah sebatang kara,
bertemu saat pengasuhnya menemui mereka dijalan. Hingga kanak-kanakan pengasuh
mereka meninggal dunia, maka mereka berjuang demi kehidupan.
Kinoy adalah seorang yang cerdik dan pandai menyela sesuatu
yang terbilang sulit sekali pun. Sedangkan yonik adalah seorang baik hati dan
seorang lugu kepada semua orang dan seorang yang menuruti apa yang kinoy
katakan.
Hingga suatu perckapan terjadi, Kinoy berkata, “nik, hari
ini kita harus bekerja lebih giat lagi yuk..? agar kita mendapatkan makanan
hari ini.”
Yonik pun bergumam saja. Melanjutkan perkataannya, “kau
tau enggk rumah pak kades yang disana itu, mempunyai banyak barang-barang
bekas, coba kita tawarkan saja, agar barangnya hendak berkenan kita jual”.
Mereka berdua bergegas menghampiri rumah pak kades
tersebut, dan setelah sampai disana mereka pun bertanya kepada pak kades agar
barang-barang bekasnya berkenan kita jual. Entah angin berhembus dari barat
apa, dengan baik hati pak kades memeberikan sebagian barang bekasnya kepada
kinoy dan yonik, hati yang bergembira menyelimuti mereka. Terkenalnya pak kades
bermuka garang itu disulap seketika menjadi bidadara yang turun dari langit.
Berjalan menyusuri kehidupan itu tak semudah membalikkan
telapak tangan, dengan gigihnya mereka pergi untuk menjual barang-barang
tersebut ke desa-desa lain. Ada yang menerima. Adapun yang menolak, kata-kata
tersebut sudah melekat dihati mereka, hingga kebal atas ucapan itu. Bercucur
keringat terik matahari sekonyong seperti memperhatikan mereka berdua.
(Dalam
perjalanan).
“kau tahu seorang pejuang di medan perang berjuang untuk
apa..?” kinoy bercerita disela-sela perjalanannya, “tak tahu kin, wahh kau
hebat tahu segala hal” yonik, menjawab sambil tersenyum melihat sahabatnya itu.
Kinoy melanjutkan, “pejuang berjuang demi kehidupan yang
layak dan tentram di negara nik, jadi kita haruslah seperti itu kawan”.
Menggenggam jari menutup kepalan tangan
seraya mengucap, “demi kehidupaaaaaan teman, hahahaha”. Mereka tertawa
gembira, langit yang seakan meridhoi mereka.
Hingga akhir tiba di rumah kong chein pemilik gudang
bekas, kedua kalinya, ini merupakan langit yang begitu baik kepadanya. Kong
chein menerima barang-barang bekas yang kinoy dan yonik tawarkan, tak seberapa
harga ia beli tapi bagi mereka berharga dan amat menerimanya dengan ikhlas apa
yang koh chein kasih. Kini kegembiraan itu terselimuti kepada pada
wajah yang kurang terawat itu, Maka mereka berdua dapat menikmati hasil kerja
kerasnya itu untuk sekedar makan sehari-hari.
Sejak itu kinoy dan yonik bersemangat untuk mencari
penghasilan walau tak seberapa, perasaan iri mereka terlintas ketika mereka
melihat seorang seusianya dimanjakan oleh kedua orangtuanya dan dibelikan
mainan-mainan bagus sedangkan mereka berdua hanya sebatang kara yang perih
menjalani kehidupan didunia ini.
Walau begitu mereka berdua sangatlah bersemangat demi
cita-cita mereka yang ingin dicapainya. Yonik, berkata; “kin, kapan kita
mempunyai mainan-mainan bagus seperti itu? Dan kita bisa seperti mereka?”,
“nik, tenanglah sebentar, kau tau kehidupan seperti itu belumlah menyenangkan,
tapi ingat kehidupan yang menyenangkan adalah hati yang bisa menerima
kesederhanaan” kinoy menjelaskan. Wajah yonik perlahan berubah menjadi tenang
ketika kinoy menjelaskan arti kehidupan secara perlahan.
***
Suatu ketika saat yonik menjalani kegiatan seperti biasa
mengumpulkan, mencari, dan menjual barang bekas kepada koh chein. Saat itu ia
merasakan tubuh yang menggigil, kaki yang teramat pedih seluruh tubuhnya yang
tak dapat digerakan lagi. Ia terkapar dan menjalani perawatan yang cukup
mendalam. Saat itu koh chein yang berada didepannya jatuh tergeletak, lalu koh
chein terkejut melihatnya dan langsung dilarikan kerumah sakit.
Kinoy tak tahu keadaan yonik yang ternyata di larikan
kerumah sakit. Kinoy yang tengah mendapatkan rejeki banyak saat selesai
berkerja keras sebagai pengumpul barang bekas, sol sepatu dan pengamen jalanan.
Ia lakukan demi sahabatnya yang seperti adik kandungnya sendiri.
Kinoy memang semangat dalam kumpul mengumpulkan uang,
hari ini saja ia mendapatkan rejeki yang banyak hanya untuk membelikan mainan
untuk yonik. Tapi sungguh malang nasib yang kinoy lakukan, setelah kinoy
membelikan mainan dan beranjak ingin pulang dan memberikan hadiah supraise
untuk sahabatnya yang ia sayangi. kini, terkapar dirumah sakit.
Saat kinoy tiba, ia memanggil kepada sahabtnya, yonik,
seperti biasa dengan suara lantangnya ia memanggil dan berteriak, “nik,...”
(sambil melihat seisi rumah kecil yang terbuat dari teriplek bekas yang mereka
kumpulkan),
Yoniiikk....????, yYYoonniiIiiiikKkKkkk.......!!!
***
Tak ada satu pun suara yang terdengar di dalam rumah,
lalu ia beranjak keluar rumah untuk mencarinya. Berteriak-teriak dan bertanya
kepada orang lain, dan tak ada satupun yang mengetahui yonik berada.
Hingga, kinoy mengunjungi tempat koh chein yang akrab
dengan mereka dan kinoy mendapatkan kabar dari wanita tua yang berambut panjang
sedikit beruban (istri koh chein). Wanita itu memberi tahu kepada kinoy bahwa
tadi ada seorang anak kecil yang seusia denganya, dan jatuh terkapar sampai
dilarikan kerumah sakit.
Saat mendengar hal itu lalu kinoy langsung meminta alamat
rumah sakit kepada wanita setengah tua itu dan bergegas berlari menuju jalanan
untuk pergi kerumah sakit dekat kota.
Dalam perjalanan ia berdoa, agar sahabatnya di berikan
kesehatan selalu dan di beri kekuatan. Melewati persawahan dan hutan lebat ia
lewati karena jarak jauh yang menggapai jalan raya, ketika itu pun hujan pun
lebat hingga membasahi seluruh isi bumi ini, dan menganggu perjalanan dalam
hutan.
Saat ia melewati separuh rapuknya jembatan yang hampir
roboh itu, ia perlahan melewatinya. Berpegangan pada tali, menapaki kaki pada
kayu jembatan. Hujan sangat deras. Langit mencengkrami keadaan sahabatnya di
rumahsakit. Jalanan begitu licin hingga
ia terjatuh, terpleset dalam jurang, hingga ia berpegangan pada tali yang
terbuat rantai pepohonan.
“hampir saja…” kata itu yang di ucapkan oleh kinoy sang
cerdas dan tak pernah mengeluh.
Di lain tempat koh chein tepat sedang mengantar yonik
untuk di rawat dengan unit darurat, selama perjalanan rumah sakit yonik enggak
kunjung membaik, keadaan semakin kritis, bernaikkan ranjang yang didorong oleh
beberapa suster dan koh chein untuk masuk kedalam ruangan intensif.
Suster “maaf pak, bapak tunggu disini. Biar kami
merawatnya dulu hingga siuman dan sadarkan diri”. Koh chein, “baik suster,
tolong rawat dia hingga sembuh”. Koh chein memang teramat kasian melihat kinoy
dan yonik yang pantang menyerah dalam kerasnya hidup. Mereka lah yang sering
mengumpulkan banyak barang bekas kepada koh chein di tempat beranda tokonya,
disisi lain koh chein merasa bangga terhadap mereka walau dipandang rendah tapi
mereka mempunyai niatan luhur yang tak seorang pun memelikinya walau orang kaya
sekalipun.
Koh chein hanya terpaku diam melihat yonik berada dalam
ruangan icu. Kemudian koh chein duduk didepan ruangan itu sambil menunggu kinoy
datang.
“Zzzgeerrrr....!!!” sebatan kilat menerangi gelap dalam
hutan, kinoy sedang berusaha untuk berlari hingga sempailah ujung penerangan
jalan yang dilewati mobil dan motor. Sesampai jalan raya kinoy bertanya – untuk
menanyakan alamat rumah sakit yang dituju – kepada orang lain.
“maaf pak, saya mau nanya, tahu alamat rumah sakit ini
enggk pak?” kinoy bertanya kepada usia lebih dewasa, “enggak De, mungkin tanya
saja pada bapak supir yang disana mungkin dia tahu”.
Ahirnya kinoy bertanya kepada tukang supir dan ia pun
medapatkan pula tumpangan dari sang supir yang baik hati itu. Mereka berangkat
menuju perjalanan rumah sakit, tak disangka dalam perjalanan mereka mendapatkan
gejala lagi, mereka mendapatkan kemacetan yang amat panjang yang tak
memungkinkan untuk berjalan. Akhirnya mereka berdiam melihat kesisi jalanan
macet ini berkisaran 70km panjangnya.
Baju basahnya kinoy kini disulap menjadi kering kembali,
dia menghela nafas agar kawan karibnya selalu diberikan kekuatan untuk bisa
berthan hidup.
Perasaan kinoy
berubah menjadi gelisah, tak tenang bila kawan karibnya meninggalkan dia. Kinoy
bertanya “bang, kapan kita tiba dirumah sakit?” supir pun menjawab, “emang
kenapa?, mungkin kisaran jam 7 atau 8an..?” mendengar jawaban seperti itu kinoy
pun bergegas turun dari mobil yang ditumpanginya dan terus berlari agar sampai
pada tujuanya di rumahsakit.
“aku harus sampai pada tujuanku, teman bersabar lah…”
disela ia berlari.
***
Kini, mentari berselimut diufuk barat, tak lagi menyinari
bumi, langit kemerahan berdatangan tanda malam akan tiba, suasana ramai dijalan
kian beradu, air bercucuran pada kulit sang pelari tak kenal lelah untuk terus
berlari. Hingga tiba rumah sakit.
(Dalam rumahsakit)
“Dok, bagaimana keadaan anak itu dok..?, apakah dia
baik-baik saja”. Koh chein mulai mencemasi anak yang baru saja dokter rawat,
“dia sangat keritis pak, ada pembengkakan pada safar otaknya dan seluruh
anggota tubuhnya kemungkinan tak akan bergerak lagi” dokter menjelaskan.
Dokter pun pergi dan koh chein hanya terdiam membisu, dan
terkapar dikursi tunggu.
Kinoy akhirnya tiba dirumah sakit, ia langsung masuk dan
bertanya pada tugas pelayanan rumah sakit. “permisi, mbak, saya mau ketemu
teman saya bisa? Dimana ruangannya?” kinoy betanya,
“maaf ini atas nama siapa? Mau menjenguk siapa de?” sang
petugasbertanya kembali.
Kinoy pun menjawabnya, “saya kinoy saya ingin bertemu
sahabat sekaligus udah kuanggap sebagai adik saya namanya yonik”, ahirnya
stelah dijelaskan oleh kinoy sang petugaspun member tahu ruangan dan
mengantarnya hingga kursi tunggu. Sesampai kinoy tiba, dia melihat orang tua
yang sedang duduk itu, ia mengenalnya dan ternyata koh chein. Saat itu kinoy
langsung bertanya-tanya keadaan yonik berada.
Koh chein hafal betul yonik dan kinoy itu seperti apa,
kekerabatan mereka mengagumi semua hal layak. Hingga koh chein pun tak enggan
berkomentar saat kinoy tiba ia hanya mengucapkan “baik-baik saja kinoy ^_^”
kata itu yang koh chein ucapkan.
Saat itu suster pun mendekati kedua orang yang sedang
duduk itu, “maaf silahkan bapak bisa menlihat keadaan anak itu” kata suster.
Langsung mereka berdua menemui yonic yang sedang terkaparr”.
Saat
kinoy melihatnya ia pun merasa bersalah dan terdiam saja tak bisa berkata
apa-apa.