Wikipedia

Hasil penelusuran

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 26 Mei 2016

Kinoy dan Yonik (frendship)



“Kinoy dan Yonik”
Karya: Rahmatullah (Al” bantany)

Di suatu kisah terlihat dua seorang sahabat berkelana menghadapi hidup dalam kepedihan, mereka mencari sebuah kehidupan yang layak untuk mencapai kehidupan yang baik. Direruntuhan awan yang gelap terang bagai bola lion yang menyinari isinya, tak pernah lelah keringat menjadi obat usaha mereka.
Bermula di desa yang sangat jauh dari kota indah, berkemul sederhana. Lecek. Dan raut wajah yang terbilang tak terurus itu tersimpan senyuman yang bersemangat. Iyah, mereka adalah kinoy dan yonik yang tak tahu siapa kedua orang tua mereka, mereka terlahir hanyalah sebatang kara, bertemu saat pengasuhnya menemui mereka dijalan. Hingga kanak-kanakan pengasuh mereka meninggal dunia, maka mereka berjuang demi kehidupan.
Kinoy adalah seorang yang cerdik dan pandai menyela sesuatu yang terbilang sulit sekali pun. Sedangkan yonik adalah seorang baik hati dan seorang lugu kepada semua orang dan seorang yang menuruti apa yang kinoy katakan.
Hingga suatu perckapan terjadi, Kinoy berkata, “nik, hari ini kita harus bekerja lebih giat lagi yuk..? agar kita mendapatkan makanan hari ini.”
Yonik pun bergumam saja. Melanjutkan perkataannya, “kau tau enggk rumah pak kades yang disana itu, mempunyai banyak barang-barang bekas, coba kita tawarkan saja, agar barangnya hendak berkenan kita jual”.
Mereka berdua bergegas menghampiri rumah pak kades tersebut, dan setelah sampai disana mereka pun bertanya kepada pak kades agar barang-barang bekasnya berkenan kita jual. Entah angin berhembus dari barat apa, dengan baik hati pak kades memeberikan sebagian barang bekasnya kepada kinoy dan yonik, hati yang bergembira menyelimuti mereka. Terkenalnya pak kades bermuka garang itu disulap seketika menjadi bidadara yang turun dari langit.
Berjalan menyusuri kehidupan itu tak semudah membalikkan telapak tangan, dengan gigihnya mereka pergi untuk menjual barang-barang tersebut ke desa-desa lain. Ada yang menerima. Adapun yang menolak, kata-kata tersebut sudah melekat dihati mereka, hingga kebal atas ucapan itu. Bercucur keringat terik matahari sekonyong seperti memperhatikan mereka berdua.
(Dalam perjalanan).
“kau tahu seorang pejuang di medan perang berjuang untuk apa..?” kinoy bercerita disela-sela perjalanannya, “tak tahu kin, wahh kau hebat tahu segala hal” yonik, menjawab sambil tersenyum melihat sahabatnya itu.
Kinoy melanjutkan, “pejuang berjuang demi kehidupan yang layak dan tentram di negara nik, jadi kita haruslah seperti itu kawan”. Menggenggam jari menutup kepalan tangan  seraya mengucap, “demi kehidupaaaaaan teman, hahahaha”. Mereka tertawa gembira, langit yang seakan meridhoi mereka.
Hingga akhir tiba di rumah kong chein pemilik gudang bekas, kedua kalinya, ini merupakan langit yang begitu baik kepadanya. Kong chein menerima barang-barang bekas yang kinoy dan yonik tawarkan, tak seberapa harga ia beli tapi bagi mereka berharga dan amat menerimanya dengan ikhlas apa yang koh chein kasih. Kini kegembiraan itu terselimuti kepada pada wajah yang kurang terawat itu, Maka mereka berdua dapat menikmati hasil kerja kerasnya itu untuk sekedar makan sehari-hari.
Sejak itu kinoy dan yonik bersemangat untuk mencari penghasilan walau tak seberapa, perasaan iri mereka terlintas ketika mereka melihat seorang seusianya dimanjakan oleh kedua orangtuanya dan dibelikan mainan-mainan bagus sedangkan mereka berdua hanya sebatang kara yang perih menjalani kehidupan didunia ini.
Walau begitu mereka berdua sangatlah bersemangat demi cita-cita mereka yang ingin dicapainya. Yonik, berkata; “kin, kapan kita mempunyai mainan-mainan bagus seperti itu? Dan kita bisa seperti mereka?”, “nik, tenanglah sebentar, kau tau kehidupan seperti itu belumlah menyenangkan, tapi ingat kehidupan yang menyenangkan adalah hati yang bisa menerima kesederhanaan” kinoy menjelaskan. Wajah yonik perlahan berubah menjadi tenang ketika kinoy menjelaskan arti kehidupan secara perlahan.
***
Suatu ketika saat yonik menjalani kegiatan seperti biasa mengumpulkan, mencari, dan menjual barang bekas kepada koh chein. Saat itu ia merasakan tubuh yang menggigil, kaki yang teramat pedih seluruh tubuhnya yang tak dapat digerakan lagi. Ia terkapar dan menjalani perawatan yang cukup mendalam. Saat itu koh chein yang berada didepannya jatuh tergeletak, lalu koh chein terkejut melihatnya dan langsung dilarikan kerumah sakit.
Kinoy tak tahu keadaan yonik yang ternyata di larikan kerumah sakit. Kinoy yang tengah mendapatkan rejeki banyak saat selesai berkerja keras sebagai pengumpul barang bekas, sol sepatu dan pengamen jalanan. Ia lakukan demi sahabatnya yang seperti adik kandungnya sendiri.
Kinoy memang semangat dalam kumpul mengumpulkan uang, hari ini saja ia mendapatkan rejeki yang banyak hanya untuk membelikan mainan untuk yonik. Tapi sungguh malang nasib yang kinoy lakukan, setelah kinoy membelikan mainan dan beranjak ingin pulang dan memberikan hadiah supraise untuk sahabatnya yang ia sayangi. kini, terkapar dirumah sakit.
Saat kinoy tiba, ia memanggil kepada sahabtnya, yonik, seperti biasa dengan suara lantangnya ia memanggil dan berteriak, “nik,...” (sambil melihat seisi rumah kecil yang terbuat dari teriplek bekas yang mereka kumpulkan),
Yoniiikk....????,  yYYoonniiIiiiikKkKkkk.......!!!
***
Tak ada satu pun suara yang terdengar di dalam rumah, lalu ia beranjak keluar rumah untuk mencarinya. Berteriak-teriak dan bertanya kepada orang lain, dan tak ada satupun yang mengetahui yonik berada.
Hingga, kinoy mengunjungi tempat koh chein yang akrab dengan mereka dan kinoy mendapatkan kabar dari wanita tua yang berambut panjang sedikit beruban (istri koh chein). Wanita itu memberi tahu kepada kinoy bahwa tadi ada seorang anak kecil yang seusia denganya, dan jatuh terkapar sampai dilarikan kerumah sakit.
Saat mendengar hal itu lalu kinoy langsung meminta alamat rumah sakit kepada wanita setengah tua itu dan bergegas berlari menuju jalanan untuk pergi kerumah sakit dekat kota.
Dalam perjalanan ia berdoa, agar sahabatnya di berikan kesehatan selalu dan di beri kekuatan. Melewati persawahan dan hutan lebat ia lewati karena jarak jauh yang menggapai jalan raya, ketika itu pun hujan pun lebat hingga membasahi seluruh isi bumi ini, dan menganggu perjalanan dalam hutan.
Saat ia melewati separuh rapuknya jembatan yang hampir roboh itu, ia perlahan melewatinya. Berpegangan pada tali, menapaki kaki pada kayu jembatan. Hujan sangat deras. Langit mencengkrami keadaan sahabatnya di rumahsakit.  Jalanan begitu licin hingga ia terjatuh, terpleset dalam jurang, hingga ia berpegangan pada tali yang terbuat rantai pepohonan.
“hampir saja…” kata itu yang di ucapkan oleh kinoy sang cerdas dan tak pernah mengeluh.
Di lain tempat koh chein tepat sedang mengantar yonik untuk di rawat dengan unit darurat, selama perjalanan rumah sakit yonik enggak kunjung membaik, keadaan semakin kritis, bernaikkan ranjang yang didorong oleh beberapa suster dan koh chein untuk masuk kedalam ruangan intensif.
Suster “maaf pak, bapak tunggu disini. Biar kami merawatnya dulu hingga siuman dan sadarkan diri”. Koh chein, “baik suster, tolong rawat dia hingga sembuh”. Koh chein memang teramat kasian melihat kinoy dan yonik yang pantang menyerah dalam kerasnya hidup. Mereka lah yang sering mengumpulkan banyak barang bekas kepada koh chein di tempat beranda tokonya, disisi lain koh chein merasa bangga terhadap mereka walau dipandang rendah tapi mereka mempunyai niatan luhur yang tak seorang pun memelikinya walau orang kaya sekalipun.
Koh chein hanya terpaku diam melihat yonik berada dalam ruangan icu. Kemudian koh chein duduk didepan ruangan itu sambil menunggu kinoy datang.
“Zzzgeerrrr....!!!” sebatan kilat menerangi gelap dalam hutan, kinoy sedang berusaha untuk berlari hingga sempailah ujung penerangan jalan yang dilewati mobil dan motor. Sesampai jalan raya kinoy bertanya – untuk menanyakan alamat rumah sakit yang dituju – kepada orang lain.
“maaf pak, saya mau nanya, tahu alamat rumah sakit ini enggk pak?” kinoy bertanya kepada usia lebih dewasa, “enggak De, mungkin tanya saja pada bapak supir yang disana mungkin dia tahu”.
Ahirnya kinoy bertanya kepada tukang supir dan ia pun medapatkan pula tumpangan dari sang supir yang baik hati itu. Mereka berangkat menuju perjalanan rumah sakit, tak disangka dalam perjalanan mereka mendapatkan gejala lagi, mereka mendapatkan kemacetan yang amat panjang yang tak memungkinkan untuk berjalan. Akhirnya mereka berdiam melihat kesisi jalanan macet ini berkisaran 70km panjangnya.
Baju basahnya kinoy kini disulap menjadi kering kembali, dia menghela nafas agar kawan karibnya selalu diberikan kekuatan untuk bisa berthan hidup.
 Perasaan kinoy berubah menjadi gelisah, tak tenang bila kawan karibnya meninggalkan dia. Kinoy bertanya “bang, kapan kita tiba dirumah sakit?” supir pun menjawab, “emang kenapa?, mungkin kisaran jam 7 atau 8an..?” mendengar jawaban seperti itu kinoy pun bergegas turun dari mobil yang ditumpanginya dan terus berlari agar sampai pada tujuanya di rumahsakit.
“aku harus sampai pada tujuanku, teman bersabar lah…” disela ia berlari.
***
          Kini, mentari berselimut diufuk barat, tak lagi menyinari bumi, langit kemerahan berdatangan tanda malam akan tiba, suasana ramai dijalan kian beradu, air bercucuran pada kulit sang pelari tak kenal lelah untuk terus berlari. Hingga tiba rumah sakit.
(Dalam rumahsakit)
          “Dok, bagaimana keadaan anak itu dok..?, apakah dia baik-baik saja”. Koh chein mulai mencemasi anak yang baru saja dokter rawat, “dia sangat keritis pak, ada pembengkakan pada safar otaknya dan seluruh anggota tubuhnya kemungkinan tak akan bergerak lagi” dokter menjelaskan.
          Dokter pun pergi dan koh chein hanya terdiam membisu, dan terkapar dikursi tunggu.
Kinoy akhirnya tiba dirumah sakit, ia langsung masuk dan bertanya pada tugas pelayanan rumah sakit. “permisi, mbak, saya mau ketemu teman saya bisa? Dimana ruangannya?” kinoy betanya,
“maaf ini atas nama siapa? Mau menjenguk siapa de?” sang petugasbertanya kembali.
Kinoy pun menjawabnya, “saya kinoy saya ingin bertemu sahabat sekaligus udah kuanggap sebagai adik saya namanya yonik”, ahirnya stelah dijelaskan oleh kinoy sang petugaspun member tahu ruangan dan mengantarnya hingga kursi tunggu. Sesampai kinoy tiba, dia melihat orang tua yang sedang duduk itu, ia mengenalnya dan ternyata koh chein. Saat itu kinoy langsung bertanya-tanya keadaan yonik berada.
Koh chein hafal betul yonik dan kinoy itu seperti apa, kekerabatan mereka mengagumi semua hal layak. Hingga koh chein pun tak enggan berkomentar saat kinoy tiba ia hanya mengucapkan “baik-baik saja kinoy ^_^” kata itu yang koh chein ucapkan.
Saat itu suster pun mendekati kedua orang yang sedang duduk itu, “maaf silahkan bapak bisa menlihat keadaan anak itu” kata suster. Langsung mereka berdua menemui yonic yang sedang terkaparr”.
Saat kinoy melihatnya ia pun merasa bersalah dan terdiam saja tak bisa berkata apa-apa.

Kamis, 05 Juni 2014

kesabaran, kemuliaan seorang putri kerajaan

Disebuah desa, terdapat sebuah kerajaan yang sangat indah . disana terdapat taman-taman bunga yang harum dan segar. Dikerajaan itu, hidup seorang Raja dan Ratu yang sangat arif, adil dan bijaksana. Mereka mempunyai seorang putra yang bernama hamzawi maulana, dia sering disebut dengan pangeran  hamzawi.
Pada suatu hari, pangeran hamzawi mendapatkan tugas dari sang ayah untuk mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dengan syarat hamzawi harus mendapatkan seorang pendamping yang tepat untuk membimbingnya.
“wahai, anakku, ku perintahkan kau berkelana untuk mencari jati diri yang sesungguhnya.” Ucap sang Raja dengan serius. “untuk apa ayah, bukan aku sudah bisa mencari jati diri di kerajaan ini saja?” bertanya sang pangeran kepadanya. “ayah hanya ingin kau mandiri anakku, dengan tidak bergantung bahwa kau adalah putra seorang raja” kata sang Raja, “baiklah aku akan menuruti kehendakmu ayahku”. “tapi dengan satu syarat” timpal sang Ayah, “kenapa  harus ada syaratnya yah, apakah baginda tak percaya dengan anakmu ini..?” penuh pertanyaan dalam benaknya. “bukannya aku tak percaya anakku tapi, aku ingin kau berhasil dengan pencarianmu ini” ucap sang Raja. “memang apa syaratnya ayah?”, “syaratnya tak sulit. Kau hanya tinggal mencari seorang teman yang bisa kau ajak berbagi suka dan duka dan sabar menemanimu, selama kau menjalani tugasku.” Dengan tenang sang raja menjelaskan, “baiklah ayah!, setelah aku mendapatkan seorang teman seperti yang inginkan, aku akan langsung berangkat dalam pencarian jati diriku.” Dengan tersenyum dia menjawab.
Keseokan harinya, diumumkan kepada semua rakyat barang siapa yang paling bisa sabar dia akan dipilih untuk menemani pangeran, mencari jati dirinya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tapi, pangeran belum juga mendapatkan seorang yang dicarinya. Akhirnya pangeran pamit ke raja untuk meminta ijin mencari sendiri oaring yang akan menemaninya. Sang raja pun mengizinkan, dengan syarat dalam kurun satu minggu ia harus menemukannya.
Dihari pertama pencariannya, dia bertemu dengan seorang gadis. Dia melihat kehebatan seorang gadis itu berburu, dengan lincah gadis itu menggerak-gerakan panahnya. Pangeran tidak menyangka bahwa ada seorang gadis yang berpakaian jilbab rapih dan menutup semua badan dengan balutan jubah yang rapih, bisa memanah sehebat itu. Pangeran mendekati seraya berkata, “hey kau!!!, maukah kau mengajariku memanah?” sang pangeran mendekat. “kamu siapa?” ucap gadis itu. “aku seorang pengembara yang ingin berburu” dia sedikit berbohong dan tersenyum, “dari mana asalmu?” gadis itu bertanya lagi. “dari desa sebelah” ujarnya. Begitu mereka bercakap-cakap, akhirnya gadis itu mau menemani dan mengajari pangeran berburu.
***
 Pangeran yang tadinya tidak pernah berburu, maka dari itu sulit baginya mamahami ucapan gadis itu, tapi gadis itu tetap sabar mengajari sang pangeran. Hari pertama pangeran mulai bisa menguasai buruannya, sang gadis tetap sabar menunggu pangeran sampai mendapatkanya. Hari sudah semakin petang, sang gadis bertanya kepada sang pangeran, “kamu tinggal dimana untuk sementara ini?” “aku juga tidak tahu dimana harus tinggal, mungkin jika diluar hutan seperti ini aku bisa dimakan binatang buas”, ujarnya sedikit bercanda. “jika kamu tidak keberatan, mari istirahat di gubukku  untuk beberapa hari”, tawar sang gadis. Tanpa berpikir panjang, sang pangeran mengiyakan tawaran sang gadis itu.
Setelah sampai dirumah gadis itu, pangeran terkejut, ternyata sebuah istana sangat besar yang ada didepan matanya. “inilah gubuk yang aku katakan tadi kepadamu” suara gadis itu menggubris lamunan pangeran.
“eeumm...., iyaa” pangeran kikuk. “mari masuk”, ajak sang gadis itu.
“ternyata sungguh tidak disangka, gadis habbit berburu itu adalah puteri seorang raja” (gumam pangeran dalam hatinya)ketika sang puteri itu datang, ayah gadis itu tersenyum heran melihat gadisnya membawa seorang teman. “Siapa itu nak...???” tanya sang raja.
“dia adalah teman baruku yah, dia sedang berkelana di hutan, jadi aku ajak saja dia ketempat kita, aku rasa ayah juga tidak akan marah” kata sang gadis kepada raja. Raja hanya tersenyum, dan sangat senang melihat anaknya mendapatkan teman yang tampan dan gagah seperti gibran, walaupun seorang laki-laki dia percaya bahwa anaknya tetap menjaga kemuhrimannya. Raja memang tidak tahu asal-usul gibran. Tetapi dia yakin anaknya tidak akan salah memilih teman. Sang raja, tidak pernah membedakan orang biasa maupun bangsawan, bagi raja yang terpenting adalah iman dan taqwanya kepada Allah SWT.
Keesokan harinya pangeran dan gadis itu menghabiskan waktu untuk berburu. Pangeran memperthatikan tingkah laku gadis itu, yang selalu sabar mengajarinya. Sampai-sampai membuatnya lupa akan satu hal, dia belum mengetahui siapa nama gadis itu.
Pangeran berhenti sejenak, dan beristirahat di tepi sungai, gadis itu mengikuti dari belakang. Pangeran memecahkan keheningan bertanya sesuatu pada sang gadis itu. “sejak kita bertemu, aku dan kamu bahkan belum tahu nama kita masing-masing”. “sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama, tapi aku sungkan”, ucap sang gadis malu-malu. “perkenalkan namaku khalil gibran” dengan meletakan tangannya di depan dada. “nama yang jarang didengar tapi mudah di ingat, namaku asyifa hanin”. Dengan meletakan tanganya juga didepan dada.
“nama yang begitu indah dan cantik seperti yang memiliki nama itu.” Puteri syifa tersipu malu, dengan pipi yang memerah merona, semakin pesona pada dirinya. “kamu sudah mengajak  aku kerumah mu dan mengenalkanku pada orangtuamu, besok maukan kau ikut dengan ku..?”, pangeran mengajak sang gadis itu.
“kemana?”, putri merasa penasan.
“Kesuatu tempat yang pasti kau akan suka” pangeran begitu yakin. “baiklah, tapi kamu harus janji tempat itu haruslah indah.” “okeee...!” jawab pangeran singkat.
***
Pagi-pagi sekali pangeran dan putri syifa berangkat menuju tempat yang pangeran janjikan. Sesampainya mereka berdua, tenyata putri syifa sama terkejutnya sperti pangeran beberapa hari yang lalu.  Dia tidak menyangkan bahwa gibran akan membawanya ketempat yang indah itu. Disana terdapat taman yang sangat indah itu. Beratus-ratus bunga yang tertanam disana, aromanya begitu segar masuk kehidung hingga kesaraf-saraf terdalam putri syifa.
“syifaaa...” sapa pangeran, putri pun terkejut dari lamunanya. “mari masuk”, ajak gibran.  Tapi syifa agak ragu sebab dia tidak mengetahui jika istana yang dihadapanya itu adalah tempat tinggal gibran. “jagan ragu, nanti kamu akan tahu sendiri seluruh istana dan siapa yang memilikinya.” (Meyakinakanya). Tanpa ada rasa ragu lagi akhirnya syifa mengaguk setuju.
Setelah mereka berdua masuk, syifa terkejut ketika melihat semua pelayan yang berada disitu melakukan gibran dengan istimewa. Tapi syifa hanya terdiam, biar nanti gibran yang menjelaskan gumamnya dalam hati. Sejak masuk keistana pangeran tidak banyak bicara, dan dia pun bekum mau mempertemukan syifa dengan kedua orangtuanya.
Pangeranpun hanya mempersilahkanya masuk dan menunggunya diruang makan. Hari semakin sore, tapi pangeran gibran belum kembali dan muncul dihadapannya untuk menjelaskan apa yang terjadi dan istana siapa ini sebenarnya. Penuh segudang pertanyaan di hati putri syifa.
Sementara didalam sana, pangeran sedang memperhatikan asyifa yang sejak dari tadi siang menunggunya. Dia solat sendiri bahkan untuk mencari tempat wudhu saja dia seorang diri untuk memutari istana yang luas itu. Ternyata dibalik ini semua pangeran mempunyai rencana yang tersembunyi. Dia sedang menguji syifa, apakah syifa bisa sabar menunggunya didepan meja makan yang disitu terdapat berbagai macam makanan lezat-lezat, padahal pangeran tahu bahwa putri syifa belum makan sejak tadi siang sampai larut malam ini.
Dibelakang ternyata pangeran tidak sendiri, dia ditemani sang raja dan ratu. Disitu juga dia menceritakan siapa syifa sebenarnya, dan untuk apa dia dibawa kesitu. Die menjelaskan kepada kedua orangtuanya, bahwa dia ingin orang yang menemaninya untuk mencari jati dirinya itu adalah syifa, kedua orang tuanya sangat terkejut mendengarnya, tapi gibran tidak henti-hentinya meyakinkan orangtuanya bahwa syifalah yang pantas menemaninya, karena sejak pertama bertemu hingga saat ini syifa telah sabar untuk mengajari dan menemaninya berburu. Hingga sekarang syifa tetap menunggunya, betapa kagumnya raja dan ratu mendengar dan melihatnya langsung apa yang dikatakan anaknya itu terutama pangeran gibran.
Akhirnya munculah raja, ratu, dan pangeran gibran, betapa terkejutnya asyifa melihat mereka semua, “jangan takut kami berdua adalah oraangtua gibran, nak. Siapakah gerangan namamu gadis cantik?” ratu tersenyum lebar.
“Asyifa ratu”, ucapnya dengan lembut,
“Nama yang indah” , ucap ratu, “apakah kamu siap, nak mendampingi anakku gibran ini mengembara?” ucap sang raja. Putri syifa pun terdiam sejenak, karena bingung.
Pangeran gibran pun angkat bicara, “begini ayahanda, saya belum memberitahu tentang hal itu, kesabaran dan kemuliaan yang dia miliki murni ayah, bukan kareana apa-apa”.
“Wahai gibran anakku, kau tidak salah memilih, kau memang mendapatkan seperti apa yang ayah dan ibumu inginkan,” “asyifa” ucap sang raja. “iya, baginda” ucap syifa.
“maukah kau mendampingin anakku selamanya, bukan hanya mengembara, tapi lebih dari itu?” sang raja bertanya kepada putri syifa.
“apapun yang baginda inginkan insayallah saya akan menjalankannya dengan ikhlas”, ucapnya dengan lembut dan penuh ketulusan.
“bagaimana gibran, apa kau setuju dengan ayah?”. “seperti ayaha lihat,” ujarnya. “baiklah, besok kita akan keistanamu, untuk memintamu menjadi putri di kerajaan ini.” Ucap raja dengan lantang.
Tiga bulan berlalu, setelah gibran dan putri syifa menikah dan menjalani bulan madu, akhirnya mereka melanjutkan pengembaraan mereka. Sepanjang pengembaraannya, pangeran gibran sangat bahagia, karena dia didampingi oleh seorang putri yang sangat sabar dan mulia hatinya, yaitu putri syifa.

***
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html