Disebuah desa, terdapat sebuah kerajaan yang sangat indah . disana terdapat
taman-taman bunga yang harum dan segar. Dikerajaan itu, hidup seorang Raja dan
Ratu yang sangat arif, adil dan bijaksana. Mereka mempunyai seorang putra yang
bernama hamzawi maulana, dia sering disebut dengan pangeran hamzawi.
Pada suatu hari, pangeran hamzawi mendapatkan tugas dari sang ayah untuk
mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dengan syarat hamzawi harus mendapatkan
seorang pendamping yang tepat untuk membimbingnya.
“wahai, anakku, ku perintahkan kau berkelana untuk mencari jati diri yang
sesungguhnya.” Ucap sang Raja dengan serius. “untuk apa ayah, bukan aku sudah
bisa mencari jati diri di kerajaan ini saja?” bertanya sang pangeran kepadanya.
“ayah hanya ingin kau mandiri anakku, dengan tidak bergantung bahwa kau adalah
putra seorang raja” kata sang Raja, “baiklah aku akan menuruti kehendakmu
ayahku”. “tapi dengan satu syarat” timpal sang Ayah, “kenapa harus ada syaratnya yah, apakah baginda tak
percaya dengan anakmu ini..?” penuh pertanyaan dalam benaknya. “bukannya aku
tak percaya anakku tapi, aku ingin kau berhasil dengan pencarianmu ini” ucap
sang Raja. “memang apa syaratnya ayah?”, “syaratnya tak sulit. Kau hanya
tinggal mencari seorang teman yang bisa kau ajak berbagi suka dan duka dan
sabar menemanimu, selama kau menjalani tugasku.” Dengan tenang sang raja
menjelaskan, “baiklah ayah!, setelah aku mendapatkan seorang teman seperti yang
inginkan, aku akan langsung berangkat dalam pencarian jati diriku.” Dengan
tersenyum dia menjawab.
Keseokan harinya, diumumkan kepada semua rakyat barang siapa yang paling
bisa sabar dia akan dipilih untuk menemani pangeran, mencari jati dirinya. Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tapi, pangeran
belum juga mendapatkan seorang yang dicarinya. Akhirnya pangeran pamit ke raja
untuk meminta ijin mencari sendiri oaring yang akan menemaninya. Sang raja pun
mengizinkan, dengan syarat dalam kurun satu minggu ia harus menemukannya.
Dihari pertama pencariannya, dia bertemu dengan seorang gadis. Dia melihat
kehebatan seorang gadis itu berburu, dengan lincah gadis itu menggerak-gerakan
panahnya. Pangeran tidak menyangka bahwa ada seorang gadis yang berpakaian
jilbab rapih dan menutup semua badan dengan balutan jubah yang rapih, bisa
memanah sehebat itu. Pangeran mendekati seraya berkata, “hey kau!!!, maukah kau
mengajariku memanah?” sang pangeran mendekat. “kamu siapa?” ucap gadis itu.
“aku seorang pengembara yang ingin berburu” dia sedikit berbohong dan
tersenyum, “dari mana asalmu?” gadis itu bertanya lagi. “dari desa sebelah”
ujarnya. Begitu mereka bercakap-cakap, akhirnya gadis itu mau menemani dan
mengajari pangeran berburu.
***
Pangeran yang tadinya tidak pernah
berburu, maka dari itu sulit baginya mamahami ucapan gadis itu, tapi gadis itu
tetap sabar mengajari sang pangeran. Hari pertama pangeran mulai bisa
menguasai buruannya, sang gadis tetap sabar menunggu pangeran sampai mendapatkanya.
Hari sudah semakin petang, sang gadis bertanya kepada sang pangeran, “kamu
tinggal dimana untuk sementara ini?” “aku juga tidak tahu dimana harus tinggal,
mungkin jika diluar hutan seperti ini aku bisa dimakan binatang buas”, ujarnya
sedikit bercanda. “jika kamu tidak keberatan, mari istirahat di gubukku untuk beberapa hari”, tawar sang gadis. Tanpa
berpikir panjang, sang pangeran mengiyakan tawaran sang gadis itu.
Setelah sampai dirumah gadis itu, pangeran terkejut, ternyata sebuah istana
sangat besar yang ada didepan matanya. “inilah gubuk yang aku katakan tadi
kepadamu” suara gadis itu menggubris lamunan pangeran.
“eeumm...., iyaa” pangeran kikuk. “mari masuk”, ajak sang gadis itu.
“ternyata sungguh tidak disangka, gadis habbit berburu itu adalah puteri
seorang raja” (gumam pangeran dalam hatinya)ketika sang puteri itu datang, ayah
gadis itu tersenyum heran melihat gadisnya membawa seorang teman. “Siapa itu
nak...???” tanya sang raja.
“dia adalah teman baruku yah, dia sedang berkelana di hutan, jadi aku ajak
saja dia ketempat kita, aku rasa ayah juga tidak akan marah” kata sang gadis
kepada raja. Raja hanya tersenyum, dan sangat senang melihat anaknya mendapatkan
teman yang tampan dan gagah seperti gibran, walaupun seorang laki-laki dia
percaya bahwa anaknya tetap menjaga kemuhrimannya. Raja memang tidak tahu
asal-usul gibran. Tetapi dia yakin anaknya tidak akan salah memilih teman. Sang
raja, tidak pernah membedakan orang biasa maupun bangsawan, bagi raja yang
terpenting adalah iman dan taqwanya kepada Allah SWT.
Keesokan harinya pangeran dan gadis itu menghabiskan waktu untuk berburu.
Pangeran memperthatikan tingkah laku gadis itu, yang selalu sabar mengajarinya.
Sampai-sampai membuatnya lupa akan satu hal, dia belum mengetahui siapa nama gadis
itu.
Pangeran berhenti sejenak, dan beristirahat di tepi sungai, gadis itu
mengikuti dari belakang. Pangeran memecahkan keheningan bertanya sesuatu pada
sang gadis itu. “sejak kita bertemu, aku dan kamu bahkan belum tahu nama kita
masing-masing”. “sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama, tapi aku
sungkan”, ucap sang gadis malu-malu. “perkenalkan namaku khalil gibran” dengan
meletakan tangannya di depan dada. “nama yang jarang didengar tapi mudah di
ingat, namaku asyifa hanin”. Dengan meletakan tanganya juga didepan dada.
“nama yang begitu indah dan cantik seperti yang memiliki nama itu.” Puteri
syifa tersipu malu, dengan pipi yang memerah merona, semakin pesona pada
dirinya. “kamu sudah mengajak aku
kerumah mu dan mengenalkanku pada orangtuamu, besok maukan kau ikut dengan
ku..?”, pangeran mengajak sang gadis itu.
“kemana?”,
putri merasa penasan.
“Kesuatu
tempat yang pasti kau akan suka” pangeran begitu yakin. “baiklah, tapi kamu
harus janji tempat itu haruslah indah.” “okeee...!” jawab pangeran singkat.
***
Pagi-pagi sekali pangeran dan putri syifa berangkat menuju tempat yang
pangeran janjikan. Sesampainya mereka berdua, tenyata putri syifa sama
terkejutnya sperti pangeran beberapa hari yang lalu. Dia tidak menyangkan bahwa gibran akan
membawanya ketempat yang indah itu. Disana terdapat taman yang sangat indah
itu. Beratus-ratus bunga yang tertanam disana, aromanya begitu segar masuk
kehidung hingga kesaraf-saraf terdalam putri syifa.
“syifaaa...” sapa pangeran, putri pun terkejut dari lamunanya. “mari masuk”,
ajak gibran. Tapi syifa agak ragu sebab
dia tidak mengetahui jika istana yang dihadapanya itu adalah tempat tinggal
gibran. “jagan ragu, nanti kamu akan tahu sendiri seluruh istana dan siapa yang
memilikinya.” (Meyakinakanya). Tanpa ada rasa ragu lagi akhirnya syifa mengaguk
setuju.
Setelah mereka berdua masuk, syifa terkejut ketika melihat semua pelayan
yang berada disitu melakukan gibran dengan istimewa. Tapi syifa hanya terdiam,
biar nanti gibran yang menjelaskan gumamnya dalam hati. Sejak masuk keistana
pangeran tidak banyak bicara, dan dia pun bekum mau mempertemukan syifa dengan
kedua orangtuanya.
Pangeranpun hanya mempersilahkanya masuk dan menunggunya diruang makan.
Hari semakin sore, tapi pangeran gibran belum kembali dan muncul dihadapannya
untuk menjelaskan apa yang terjadi dan istana siapa ini sebenarnya. Penuh
segudang pertanyaan di hati putri syifa.
Sementara didalam sana, pangeran sedang memperhatikan asyifa yang sejak
dari tadi siang menunggunya. Dia solat sendiri bahkan untuk mencari tempat
wudhu saja dia seorang diri untuk memutari istana yang luas itu. Ternyata
dibalik ini semua pangeran mempunyai rencana yang tersembunyi. Dia sedang
menguji syifa, apakah syifa bisa sabar menunggunya didepan meja makan yang
disitu terdapat berbagai macam makanan lezat-lezat, padahal pangeran tahu bahwa
putri syifa belum makan sejak tadi siang sampai larut malam ini.
Dibelakang ternyata pangeran tidak sendiri, dia ditemani sang raja dan
ratu. Disitu juga dia menceritakan siapa syifa sebenarnya, dan untuk apa dia
dibawa kesitu. Die menjelaskan kepada kedua orangtuanya, bahwa dia ingin orang
yang menemaninya untuk mencari jati dirinya itu adalah syifa, kedua orang
tuanya sangat terkejut mendengarnya, tapi gibran tidak henti-hentinya meyakinkan
orangtuanya bahwa syifalah yang pantas menemaninya, karena sejak pertama
bertemu hingga saat ini syifa telah sabar untuk mengajari dan menemaninya
berburu. Hingga sekarang syifa tetap menunggunya, betapa kagumnya raja dan ratu
mendengar dan melihatnya langsung apa yang dikatakan anaknya itu terutama
pangeran gibran.
Akhirnya munculah raja, ratu, dan pangeran gibran, betapa terkejutnya
asyifa melihat mereka semua, “jangan takut kami berdua adalah oraangtua gibran,
nak. Siapakah gerangan namamu gadis cantik?” ratu tersenyum lebar.
“Asyifa
ratu”, ucapnya dengan lembut,
“Nama yang indah” , ucap ratu, “apakah kamu siap, nak mendampingi anakku
gibran ini mengembara?” ucap sang raja. Putri syifa pun terdiam sejenak, karena
bingung.
Pangeran gibran pun angkat bicara, “begini ayahanda, saya belum memberitahu
tentang hal itu, kesabaran dan kemuliaan yang dia miliki murni ayah, bukan
kareana apa-apa”.
“Wahai gibran anakku, kau tidak salah memilih, kau memang mendapatkan
seperti apa yang ayah dan ibumu inginkan,” “asyifa” ucap sang raja. “iya,
baginda” ucap syifa.
“maukah kau mendampingin anakku selamanya, bukan hanya mengembara, tapi
lebih dari itu?” sang raja bertanya kepada putri syifa.
“apapun yang baginda inginkan insayallah saya akan menjalankannya dengan
ikhlas”, ucapnya dengan lembut dan penuh ketulusan.
“bagaimana gibran, apa kau setuju dengan ayah?”. “seperti ayaha lihat,”
ujarnya. “baiklah, besok kita akan keistanamu, untuk memintamu menjadi putri di
kerajaan ini.” Ucap raja dengan lantang.
Tiga bulan berlalu, setelah gibran dan putri syifa menikah dan menjalani
bulan madu, akhirnya mereka melanjutkan pengembaraan mereka. Sepanjang
pengembaraannya, pangeran gibran sangat bahagia, karena dia didampingi oleh
seorang putri yang sangat sabar dan mulia hatinya, yaitu putri syifa.
***







0 komentar:
Posting Komentar